(INTERNATIONAL ISLAMIC COLLEGE) Ma’had Aly Nurul Haromain , Ikhtiar Mencetak Kader Da’i Berwawasan Global

Oleh : Dr. Akhmad Muwafik Saleh, S.sos. M.Si
(Wakil Mudir International Islamic College – Ma’had Aly Nurul Haromain)

Salah satu pilar terpenting dalam pembangunan peradaban adalah ilmu pengetahuan. peradaban atau Civilization berdiri tegak di atas beberapa pilar antara lain aqidah atau keimanan, ilmu pengetahuan, akhlak moralitas atau adab dan keadilan (al ‘adalah).

Dalam sejarah Islam ilmu pengetahuan (العلم) memiliki kedudukan yang sangat istimewa, Al-Qur’an dan Sunnah mendorong segenap ummat Islam untuk tidak pernah berhenti mengupayakan ilmu,  baik dalam memahami isi kitab suci dan khazanah keilmuan ataupun menelaah berbagai realitas alam. 

Penguasaan ilmu pengetahuan menjadi jalan utama menuju kemuliaan sebagai seorang insan yang menjadikannya lebih mulia daripada malaikat bahkan Allah swt memerintahkannya untuk sujud atas kemuliaanNya. Karena dengan ilmu manusia akan menjadi makhluk yang beradab dan dengannya mampu melahirkan peradaban.  Betapa banyak Firman Allah yang menutup ayatnya dengan kata yang merujuk pada aktifitas berpikir yang menjadi simbol ilmu pengetahuan, seperti ta’lamun, tafakkarun, ta’qilun dan sebagainya. Bahkan ayat yang pertama kali turun adalah perintah membaca “Iqra'”. Demikianlah, Islam menganjurkan umatnya untuk terus menuntut ilmu sampai kapan pun, Long life education : 

اُطْلُبُوا العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلى اللَّحْدِ

“Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat”

Bahkan seorang penyair mengatakan :

وفضل وعنوان لكلّ المحامد  تعلّم فانّ العلم زين لأهله
من العلم واسبح في بحور الفواءد  وكن مستفيدان كل يوم زيادة
 
“Belajarlah, karena ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, dan keutamaan baginya serta tanda setiap hal yang terpuji. Jadilah kamu orang yang mencari faedah, setiap harinya bertambah ilmu dan berenang di atas lautan faedah.”

Tentu memang banyak jalan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, baik melalui jalur formal ataupun informal sebagai cara untuk memenuhi kewajiban menuntut ilmu dan menguasai ilmu pengetahuan. Jika menuntut ilmu adalah suatu kewajiban dalam islam maka tentu keberadaan lembaga pendidikan menjadi sebuah kewajiban pula. Sebagaimana dalam sebuah kaedah ushul yang menyatakan :

“مَا لاَ يَتِمُّ الواجب إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ”  

 “Sesuatu yang tidak dapat sempurna suatu kewajiban kecuali dengan hal tersebut, maka hal itu juga menjadi wajib.” 

Artinya jika suatu tindakan atau perbuatan menjadi penentu kesempurnaan kewajiban, maka tindakan atau perbuatan tersebut juga menjadi wajib. Jika menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban maka keberadaan lembaga pendidikan yang menjadi sarana terwujudnya kewajiban tersebut tentu menjadi wajib pula.

Sejarah Keberadaan Ma’had ‘Aly di Indonesia

Dalam sejarahnya, pertama kali keberadaan Ma’had ‘Aly di Indonesia adalah atas ide dan inisiasi KH. As’ad Syamsul Arifin, pengasuh pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Berawal dari perhatiannya yang tinggi atas ilmu dan kegelisahannya terkait merosotnya kualitas pesantren dan kelangkaan fuqaha’ pada saat itu di tahun 1990 an. Maka beliau mempunyai pemikiran dan menginisiasi untuk mendirikan sebuah lembaga yang secara khusus  mempelajari dan mengkaji kitab-kitab salaf dengan lebih mendalam, yang kemudian beliau menamainya dengan Ma’had ‘Aly.

Rencana pendirian Ma’had Ali ini kemudian didiskusikan dengan beberapa Kyai, baik di tingkat lokal hingga nasional. Banyak para Kyai merestui pemikiran tersebut. Namun KH Asad Syamsul Arifin tidak hanya berhenti di situ, Beliau juga ingin mendapatkan masukan dan restu dari para ulama internasional yang bermukim di Makkah al Mukarramah. sehingga beliau mengutus KH. Nadhir Muhammad dan KH. Yusuf Muhammad untuk meminta restu dan pengesahan kurikulum yang akan diterapkan di Ma’had Aly kepada tiga ulama besar yang bermukim di tanah suci Mekkah al-Mukarromah, antara lain :

  1. Syaikh Yasin Isa al-Fadani.
  2. Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki al-Hasani.
  3. Syaikh Isma’il bin Ustman al-Yamani

Dari syeikh Yasin Isa al Fadani mendapatkan masukan tentang kurikulum ma’had Aly. Kemudian saat ke Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki,  beliau memberikan komentar “Wallahi Kiai As’ad mujahid kabir”. Sementara saat ke syaikh Ismail bin usman al Yamani, beliau memanjatkan doa untuk kelancaran dan kebaikan pendirian Ma’had Aly ke depan.

Sehingga lengkaplah sudah restu dari para ulama mulai nusantara hingga dunia, maka lahirlah dan berdirilah Ma’had Aly pertama di Indonesia di pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, tepatnya pada tanggal 21 Februari 1990.

Sejarah Berdirinya International Islamic College – Ma’had ‘Aly Nurul Haromain Pujon

okoh sentral dari inisiasi pendirian lembaga pendidikan tinggi di Ma’had Pengembangan dan Dakwah Nurul Haromain Pujon, tidak lain adalah Abina wa Murabbi Ruhina KH. Muhammad Ihya Ulumiddin. Setelah lebih kurang 34 Tahun pondok Pesantren Nurul Haromain (NH) berdiri, melalui hasil istikharah yang dilakukan, Abina menyatakan “wes wayae, tartib minallah”, sudah saatnya, pondok pesantren NH memiliki perguruan tinggi untuk menfasilitasi para santri menempuh pendidikan tinggi. Sekalipun sejatinya ppndok pesantren NH sejak berdirinya telah menerapkan kurikulum pendidikan tinggi yang berbeda dengan pondok pesantren yang lain. Hal ini karena semenjak awal pendirian, pondok pesantren ini telah diniatkan menjadi pondok pesantren pengambangan dan dakwah. Dimana para santrinya adalah kalangan dewasa lulusan Madrasah Aliyah dari pondok-pondok pesantren lain sebelumnya yang tentunya diharapkan sudah bisa membaca kitab kuning.

Untuk mewujudkan maksud tersebut, Abi Ihya memberikan amanah tugas kepada Dr. Rismawati untuk mengupayakan proses fasilitasi pembelajaran perguruan tinggi bagi para santri di lingkungan pondok pesantren NH dengan mencoba bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi yang ada, seperti UII Dalwa ataupun Universitas Terbuka. Namun dalam evaluasinya hal ini dirasa kurang efektif. Sehingga disarankan untuk menemui penulis. Dari hasil diskusi, akhirnya tim inisiasi perguruan tinggi pondok pesantren NH menemui beberapa tokoh pendidikan di kota Malang untuk mendapatkan masukan tentang apa dan bagaimana perguruan tinggi yang tepat untuk pondok pesantren NH.

Tepat dimulai pada senin, 16 September 2024, tim pendirian yang terdiri dari Dr. Rismawati dan Dr. Akhmad Muwafik Saleh, beserta tim admin bersilaturahim menemui Prof. Dr. Darsono Wisadirana , Founding Father FISIP UB di kediamannya pukul 16.00 – 18.00 wib, berdiskusi dan mendapatkan masukan untuk mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam dan  perlunya bekerja sama dengan perguruan tinggi sejenis yang telah ada. 

Kemudian, pada hari yang sama pukul 18.30 – 20.00 wib, silaturrahim dilanjutkan dengan menemui Prof. Dr. H. Masykuri Bakri, Rektor Unisma 3 periode 2014-2018, periode 2018-2022, periode 2022-2025. Dari beliaunya mendapatkan masukan mendirikan Universitas yang bisa melayani keinginan masyarakat umum terlebih dalam bidang IT (informasi dan Tekhnologi) dengan landasan agama yang kuat.

Pada hari berikutnya, selasa, 17 September 2025, pukul 06.00 – 08.00 wib, silaturrahim dilanjutkan bertemu dengan Prof. Imam Suprayogo, mantan rektor UIN Malang. Dengan menghasilkan masukan mendirikan perguruan tinggi umum berbasis pondok dengan mengakomodir berbagai potensi yang ada di lingkungan sekitar, seperti sektor pertanian dan pariwisata yang menjadi faktor pembeda.

Kemudian pada hari Kamis tanggal 19 September 2025 pukul 06.00-08 00 tim selanjutnya juga bersilaturahim kepada Dr. Habib Zainal Abidin. Dalam diskusi beliau menyarankan bahwa mengingat adanya moratorium perguruan tinggi di lingkungan Kemenag serta proses administrasi yang rumit maka disarankan pondok Pesantren Nurul haromain lebih baik mendirikan Ma’had Aly dengan pertimbangan efektivitas dan fleksibilitas dalam proses pendirian dan pembelajaran dengan tetap menekankan pada eksistensi pondok pesantren selama ini. Dalam diskusi ini pula disepakati bersama branding atas nama lembaga yang akan didirikan yaitu International Islamic college.

Setelah melalui berbagai proses silaturahim dan saran dari berbagai tokoh tersebut tim kemudian sowan kepada abina untuk melaporkan hasil konsultasi ke berbagai tokoh, tepatnya pada hari Selasa tanggal 24 September 2024 tim diterima oleh abina di kediaman dhalem, yang juga dihadiri oleh beberapa asatidz sebagai calon pengurus. Dan alhamdulillah abina menyetujui usulan yang disampaikan oleh Habib Zainal Abidin untuk mendirikan Ma’had Aly di pondok Nurul haromain Pujon sehingga tepat pada hari Kamis tanggal 26 September 2024 ditandatangani lah surat tugas tim pendirian oleh abina yang menugaskan Dr. Rismawati sebagai ketua tim pendirian, dan Dr  Akhmad muwafik Saleh sebagai wakil ketua tim pendirian dibantu beberapa Asatidz lainnya, serta melibatkan Dr. Habib Zainal Abidin dan beberapa orang tim dari Dalwa yaitu Dr. Fauzi dan Dr Imaduddin terlibat sebagai anggota tim pendirian tersebut.

Dengan dibentuknya tim pendirian tersebut maka tepat pada tanggal 29 September 2024 beberapa anggota tim yang dipimpin Ust. Masyhuda,  Ust. Arif Syarifudin dan Ust. Tamami serta beberapa Ustad lainnya melakukan studi banding sekaligus meminta arahan kepada pengelola Ma’had Aly Pondok Pesantren Langitan yang pada saat itu juga baru terbit SK pendiriannya.

Selanjutnya pulang tim terus bergerak untuk melakukan studi banding dan meminta arahan ke pondok pesantren Tebuireng yang telah lebih dulu memiliki Ma’had Aly sekaligus sebagai ketua Asosiasi Ma’had Aly Indonesia ( AMALI) yaitu KH. Nur Hannan.Lc. Silaturahim tepatnya dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 1 Oktober 2024 yang dipimpin oleh Ust. Bahruddin, Dr. Rismawati dan tim.

Keesokan harinya, Rabu tanggal 2 oktober 2025,  tim bergerak dengan cepat menemui pihak kementrian agama untuk mendapatkan arahan.  Tim yang terdiri dari Dr. Habib Zainal, Dr. Imaduddin, Dr. Rismawati, Dr. Alhmad Muwafik Saleh, Ust. Arif Syarifudin, bertemu dengan Bpk Mahbub dan mendapatkan arahan tentang persyaratan pendirian ma’had ‘Aly. 

Satu hal yang penting sepulang dari Jakarta adalah saat di dalam perjalanan pulang dari Kemenag menuju bandara  tim segera melaporkan hasil pertemuannya kepada abina yang kebetulan pada saat itu beliau sedang melaksanakan umroh, dan saat tim sedang dalam pesawat sebelum.take off, abina memberi jawaban melalui telepon WA yang sangat mengharukan beliau mengatakan “Sa’ iki  aku di Raudhah Madinah, Aku sing bagian urusan langit, awakmu urusen, mugo-mugo dimudahkan”. Kalimat ini bagi tim sangatlah menggetarkan karena memberikan energi semangat spiritual untuk terus mengupayakan agar ikhtiar pendirian Ma’had Aly ini segera terwujud.

Benarlah, doa kemudahan dari Abina atas upaya pengurusan pendirian Ma’had Aly ini diberikan kemudahan oleh Allah swt. Saat itu, surat ijin operasional Ma’had Nurul Haromain yang telah mati dan telah sekian lama diurus, berkat doa Abina dengan tiba-tiba surat ijin operasional tersebut dapat terbit dengan mudah. Perlu diketahui bahwa salah satu syarat dari pendirian Ma’had Aly adalah bahwa pondok tersebut telah beroperasi minimal selama 20 tahun. Dan pondok pesantren Nurul Haromain saat pemgurusan Ma’had Aly telah berusia lebih dari 33 tahun.

Untuk menggenapi upaya mengetuk pintu langit yang di-riyadhohi oleh Abina selama di Makkah, maka Tim Ma’had Aly yang menjadi pasukan bumi terus bergerak mendatangi beberapa tokoh ulama untuk mendapatkan dukungan agar proses pendirian Ma’had Aly Nurul Haromain ini dapat segera berdiri. Tepat pada hari jumat tanggal 4 Oktober 2024, tim kecil ini melakukan silaturrahim kepada Ketua Umum Pengurys Pusat Nahdhatul Ulama (PBNU), KH. Miftakhul Akhyar di kediamannya di Surabaya, dan alhamdulillah selain mendapatkan restu, beliau juga berkenan nantinya untuk menghubungi bapak Menteri Agama terkait pengajuan proposal pendirian Ma’had Aly Nurul Haromain ini.

Perjalanan silaturahim untuk mendapatkan saran dan masukan bagi pendirian Ma’had Ali Nurul haromain tidak berhenti di situ namun terus berlanjut menemui berbagai tokoh yang terkait agar Ma’had Aly Nurul haromain ini benar-benar terwujud. Pada hari Rabu tanggal 9 Oktober tim yang terdiri dari Dr. Rismawati, Dr. Akhmad Muwafik Saleh, Ustaz Arif Syarifudin dan admin, sowan kepada KH. Abdul Ghoffarrozin (Gus Rozin) di kediamannya di Kota Semarang. Beliau memberikan saran yang sangat produktif terkait kesejarahan dan spirit dari Ma’had Aly. Beliau menjelaskan bahwa keberadaan Mahad Ali adalah bentuk rekognisi pengakuan sekaligus penghargaan pemerintah kepada lembaga pondok pesantren yang selama ini telah memberikan kontribusi yang sangat penting dalam pendidikan dan pembangunan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pengelolaan lembaga pendidikan berbasis agama yang kehadirannya lebih dahulu dibandingkan Negara kesatuan Republik Indonesia. Ma’had Aly menjamin berlangsungnya proses pendidikan dengan tetap mengakui dan melestarikan kekhasan masing-masing pondok pesantren (kurikulum dan keilmuan Kyai pengasuhnya). Pemerintah dalam hal ini memberikan pengakuan (rekognisi) dengan menyetarakan proses pendidikan di pesantren dalam sebuah pengelolaan lembaga pendidikan khusus dan spesifik dalam suatu  kajian tertentu yang mendalam, bernama Ma’had Aly yang setara dengan jenjang Strata 1 (marhalah ula- S1) , marhalah Tsani (jenjang S2), marhalah Tsalits (jenjang S3). dan mendapatkan gelar resmi kesarjanaan yang diakui oleh pemerintah melalui Kemenag RI.

Ada Sembilan Takhassus (kekhususan atau spesifikasi kajian) yang disediakan oleh Kementrian Agama untuk masing-masing Ma’had Aly Antara lain :

  1. Al-Quran dan Ilmu Al-Quran.
  2. Tafsir dan Ilmu Tafsir.
  3. Hadis dan Ilmu Hadis.
  4. Fikih dan Ushul Fikih.
  5. Akidah dan FIlsafat Islam.
  6. Tasawwuf dan Tarekat.
  7. Ilmu Falak.
  8. Sejarah dan Peradaban Islam.
  9. Bahasa dan Satra Arab.

Hingga tahun 2025 jumlah  Ma’had Aly di Indonesia telah mencapai 89 dengan berbagai spesialisasi ilmu, antara lain: ilmu hadis, tafsir, tasawwuf, sejarah peradaban Islam, dan fikih dsb.

Pada pertemuan silaturahim dengan Ketua Majelis Masyayikh tersebut, disarankan agar proposal yang telah dibuat dapat diserahkan melalui kantor majelis mas saya yang ada di Jakarta sehingga sepulang dari Semarang, maka pada hari Rabu, tanggal 16 Oktober tim yang terdiri dari Dr. Rismawati, Dr. Akhmad Muwafik Saleh dan Ust Arif Syarifudin berangkat ke Jakarta untuk menyerahkan proposal pendirian tersebut secara langsung ke kantor majelis masyayikh di Jakarta

Dari silaturahim dengan Ketua Majelis Masyayikh itu pula, tim mendapatkan informasi bahwa sekretaris Masyayikh adalah KH. Dr. Muhyiddin Khotib dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Tepat pada hari Rabu tanggal 23 Oltober 2024 tim bersilaturahim kepada beliaunya di pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah yang diasuh oleh KH. R. Ahmad Azaim Ibrahimy (alumni pondok pesantren Nurul haromain Pujon dan Rushaifah Makkah). Dari pertemuan silaturahim ini mendapatkan pencerahan tentang bagaimana pengelolaan Ma’had Aly dan beliau bersedia mendampingi secara langsung dalam proses penyusunan proposal pendirian Ma’had Aly agar sesuai dengan ketentuan yang ada dan dapat segera diterbitkan SK-nya.

Tepat pada tanggal 11 November 2024, Sekretaris Majelis Masyayikh, KH. Muhyiddin berkenan memberikan pendampingan langsung penyusunan proposal pendirian Ma’had Aly di pondok Nurul haromain Pujon Malang. Dalam proses diskusi yang dilakukan, akhirnya diambillah kesepakatan bahwa spesifikasi yang akan dipilih adalah Tathbiq al ahadits al ijtima’iyah, penerapan hadis-hadis sosial kemasyarakatan yang memang selama ini telah menjadi kekhasan yang pondok Nurul Haromain Pujon. Fokus Kajian hadits bidang sosial kemasyarakatan khususnya di bidang dakwah, ibadah, Muamalat, munakahat, pendidikan, ekonomi dan sebagainya merupakan kekuatan yang selama ini secara nyata di praktekkan di pondok nurul haromaian dalam bimbingan Abina KH. Muhammad Ihya Ulumiddin. Fokus Kajian tersebut telah terangkum dalam pemikiran Abina yang juga telah diterbitkan dalam beberapa buku dan Kitab karya beliau.

Dukungan dari banyak pihak menjadi suatu modal utama bagi pendirian Ma’had Aly, sehingga tim pendirian berupaya untuk juga mendapatkan dukungan dari internal yayasan Persadha. Tepat pada hari Rabu, tanggal 4 Desember 2024, tim pendirian Ma’had Aly melakukan sosialisasi sekaligus permohonan dukungan dari ahlu syuro Persadha Al Haramain yang bertempat di hotel Namira Syariah Surabaya setelah sebelumnya melakukan sosialisasi yang bertempat di gedung sentra dakwah Nurul haromain di Jalan Ketintang Surabaya.

Usaha untuk terus meyakinkan berbagai banyak pihak, Seraya terus memperbaiki proposal pengajuan, akhirnya membuahkan hasil. Sehingga pada hari kamis, tanggal 26 Desember 2024, pihak majelis masyayikh berkenan untuk melakukan wawancara dengan seluruh jajaran pondok Nurul Haramain dalam rangka uji kelayakan untuk rencana pendirian Ma’had Aly Nurul haromain. Pada saat itu dihadiri oleh pengasuh pondok pesantren Abina KH. Muhammad Ihya ulumiddin dan seluruh jajaran ahlussyura, dan tim pendirian. Pada saat wawancara tersebut, mendapatkan banyak masukan terkait dengan rencana kurikulum yang akan diterapkan di Ma’had Aly Nurul haromain ke depannya.

Sebagaimana sejak awal spirit daripada Ma’had Ali Nur haromain ini adalah mendalami dan menyebarluaskan pemikiran Abuya Sayyid Muhammad sebagai seorang ulama Ahlussunnah dunia dan seorang muhadits, serta pemikiran abina KH. Ihya Ulumuddin dengan dakwahnya yang sangat membumi dan dirasakan secara nyata hasil dampaknya di tengah-tengah masyarakat. 

Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya Alhamdulillah tim mendapatkan informasi bahwa SK pendirian Ma’had Aly Nurul haromain telah ditandatangani oleh Bapak Menteri Agama RI pada tanggal 4 Pebruari 2025. Namun ternyata SK tersebut belum bisa diserahkan kepada pondok Nurul haromain karena terdapat beberapa persyaratan yang belum terpenuhi salah satunya adalah banyak belum masuknya data santri yang dimiliki oleh pondok-pondok cabang Nurul haromain di dalam data EMIS. 

Data EMIS (Education Management Information System) adalah sistem pengelolaan data pendidikan Islam yang dikelola oleh Kementerian Agama. Sistem ini digunakan untuk mengelola dan memproses data pendidikan Islam, mulai dari data siswa, guru, hingga data madrasah, untuk mendukung perencanaan, pengambilan kebijakan, dan pemantauan program pendidikan Islam di lingkungan Kementerian Agama. Namun dengan kerja keras tim Alhamdulillah persyaratan tersebut bisa dipenuhi. Namun lagi-lagi, SK Ma’had Aly Nurul Haromain belum juga dapat diserahkan.

Akhirnya sebuah tartib minallah, di saat haul Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki yang ke 21 di pondok Nurul haromain Pujon, pada tanggal 20 Maret 2025, kedatangan seorang tamu yaitu Profesor Doktor Al Habib Said Aqil Al Munawar mantan menteri agama RI tahun 2001+2004 yang berkunjung ke pondok Nurul Haramain dan bersedia membantu mengkomunikasikan perijinan Ma’had Ali Nurul haromain kepada yang berwenang di Kementerian Agama RI
 
Alhamdulillah berkat rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, pada hari Senin 24 Maret tim mendapatkan kabar bahwa SK pendirian telah dapat diambil dan tepat pada hari Selasa tanggal 25 Maret 2025 pihak Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal pendidikan Islam menyerahkan secara resmi SK izin pendirian Ma’had Aly Nurul Haromain Pujon dengan SK Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 126 tahun 2025 yang diserahkan di aula kantor Dirjen pendidikan Islam Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia dan diserahkan langsung oleh Bapak Dirjen pendidikan Islam kepada Mudir Ma’had Aly Nurul Haromain, Dr. Rismawati, didampingi oleh wakil Mudir Dr. Akhmad Muwafik Saleh dan Ust. Arif Syarifudin.

Sebuah kebahagiaan yang luar biasa yang dirasakan oleh tim dan pondok pesantren Nurul haromain atas keluarnya SK ini, yang merupakan proses pengurusan pendirian Ma’had Aly tercepat dalam sejarah pendirian Ma’had Aly di Indonesia yaitu 4 bulan. Semua ini tiada lain karena fadlun minallah semata. Hadza min fadhli Rabbiy.

Karakteristik Kurikulum international Islamic college – Ma’had Aly Nurul Haromain Pujon

Sebagaimana spirit awal pendirian Ma’had Aly di Indonesia maka Ma’had Aly Nurul haromain Pujon memiliki spirit yang sama yaitu menghasilkan kader-kader dakwah yang menguasai bidang kajian ilmu hadits terkhusus dalam penerapannya baik di bidang dakwah, pendidikan, ekonomi, Muamalat hingga berbagai realitas sosial lainnya (thathbiq al ahadits al ijtima’iyah). Namun hal yang berbeda dengan Ma’had Aly lainnya sesama takhassus Ulumul Hadits adalah pada Ma’had Aly Nurul Haramain lebih berfokus kepada pemahaman dan metode berpikir yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki sebagai seorang muhaddists dan ulama Ahlussunnah dunia abad 21, serta pemikiran yang membumi yang dikembangkan oleh abina KH. Muhammad Ihya Ulumiddin yang memiliki karakter pemikiran yang khas Nusantara. Sehingga kurikulum Ma’had Aly Nurul Haromain Pujon didesain dengan memadukan pemikiran kedua tokoh sentral tersebut. Agar kedepannya menjadi model pendidikan, pembelajaran dan pengkaderan dakwah yang luwes, yang dapat diterima oleh semua kelompok umat, mampu menjadi penyatu kekuatan umat di dalam melakukan perbaikan (Al Ishlah).

Kurikulum Ma’had Aly Nurul Haromain juga didesain sedemikian rupa dengan berfokus kepada tiga unsur utama pembentuk pemikiran dan karakter santri mahasiswanya dengan 3 kompetensi. Pertama, kompetensi dasar yaitu kompetensi dasar melalui pemahaman dan penguasaan atas hadits dan ilmu-ilmu hadis (Ulumul Hadits) dengan dua rujukan utama yaitu  melalui pengkajian kutubus sittah (7 kitab kumpulan hadits-hadits Nabawi) dan pemahaman hadis dan Ulumul Hadits dalam perspektif metodologi pemikiran Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, dengan melakukan pengkajian atas kitab-kitab karya beliau. Kedua, kompetensi utama yaitu pemahaman dan pendalaman hadis serta implementasinya atau penerapannya dalam konteks kehidupan sosial kemasyarakatan dengan melakukan pengkajian atas pemikiran abina KH. Muhammad Ihya ulumiddin melalui kitab-kitab karya beliau. Ketiga, kompetensi pendukung yaitu penguasaan berbagai keterampilan yang dapat mendukung tercapainya tujuan utama kurikulum dalam membentuk karakter mahasiswanya, baik terkait penguasaan ilmu alat (bahasa Arab), metodologi berpikir dan cara menulis (Academic Writing),  keterampilan komunikasi dakwah, serta kemampuan analisis sosial dan pengembangan masyarakat (community development).

Ketiga fokus kajian ini diramu menjadi SKS pembelajaran di International Islamic college Ma’had Ali Nurul haromain dengan sebanyak 156 SKS yang dapat ditempuh selama 8 semester atau maksimal 4 tahun. Sebagai sebuah kampus Islam, internasional Islamic internasional college, yang kelak harapannya mampu menebarkan kebaikan bagi semua, dakwah rahmatan lil alamin. Sebagai kampus internasional, maka para muhadhir atau pengajarnya yang berjumlah 29 muhadhir (dosen), memiliki kompetensi dan kualifikasi pengalaman internasional, yaitu terdiri dari para alumni Rushaifah Makkah Mukarromah, asuhan Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki dan Abuya Sayyid Ahmad bin Muhammad Al Maliki dan Alumni Abina KH. Muhammad Ihya Ulumiddin. Serta proses pendidikannya juga didesain berkualifikasi internasional, yaitu melalui program short Term Study Program atau Madrasah Khoriji atau pembelajaran berjangka waktu terbatas di kampus luar negeri yang bekerja dengan IIC – MA Nurul Haromain, serta pula desain desiminasi tugas Akhir yang dilakukan di berbagai kampus luar negeri dan dalam negeri.

Tentu untuk menghasilkan kualitas sebagaimana yang diharapkan, dengan profil lulusan yang mampu menguasai bidang kajian ilmu hadits  mampu berdakwah dengan luwes di masyarakat dan di dunia internasional, maka tentu proses awal raw input dari calon mahasiswanya adalah melalui proses seleksi yang cukup ketat, dengan persyaratan minimum antara lain hafal kitab jala’ul Afkar, Karya Abina KH. Muhammad Ihya Ulumuddin, mampu membaca kitab ibanatul Ahkam, dan memiliki karakteristik Syakhsyiyah serta adab yang baik. Hal ini sesuai dengan branding daripada Ma’had Aly Nurul haromain yaitu international Islamic college dengan tagline : meraih ilmu, khidmah dan barokah. Semoga dengan ikhtiar ini, akan lahir ulama-ulama yang mampu berkhidmah kepada umat dengan ilmunya, khadimul ummah bi ilmihi. In syaa Allah.

Scroll to Top