Ketika Ilmu Tak Cukup Hanya di Buku: Mengapa Pendidikan Agama dan Pesantren Semakin Penting di Era Digital

Oleh: Dr.Rismawati.,SE.,MM.,CPS.,CPHRM.,CPRS
(Mudir International Islamic College Ma’had Aly Nurul Haromain)

Di tengah derasnya arus informasi, perkembangan teknologi, dan perubahan gaya hidup generasi muda, pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Anak- anak dan remaja hari ini tidak hanya belajar dari guru, orang tua, dan buku, tetapi juga dari layar gawai, media sosial, video pendek, serta berbagai sumber informasi yang datang hampir tanpa batas. Kemudahan memperoleh informasi tentu merupakan kemajuan. Namun, kemampuan memperoleh informasi tidak selalu berjalan seiring dengan kemampuan menyaring, memahami, dan menggunakan informasi secara bijaksana.

Di sinilah pendidikan agama memiliki posisi penting.

Pendidikan pada hakikatnya bukan hanya proses membuat seseorang menjadi pintar. Pendidikan juga merupakan proses membentuk manusia agar memiliki karakter, tanggung jawab, akhlak, dan kemampuan menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan. Kementerian Agama RI menegaskan bahwa pendidikan keagamaan memiliki peran strategis dalam membentuk moral, akhlak, dan karakter bangsa. Pendidikan agama diarahkan agar peserta didik tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan. (Kementerian Agama)

Tantangan Pendidikan di Era Digital

Era digital memberikan peluang besar bagi pendidikan. Materi pembelajaran dapat diakses dengan mudah, komunikasi menjadi lebih cepat, dan berbagai pengetahuan tersedia dalam jumlah yang sangat besar. Namun, terdapat tantangan yang tidak boleh diabaikan. Generasi muda membutuhkan kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dan keliru, membangun etika dalam berkomunikasi, menghargai orang lain, serta memiliki kemampuan mengendalikan diri. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Kecerdasan intelektual perlu berjalan bersama dengan kecerdasan moral dan spiritual. Dalam konteks inilah pendidikan agama menjadi penting. Nilai agama dapat menjadi salah satu landasan bagi peserta didik dalam menentukan sikap ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Pendidikan agama bukan sekadar menghafalkan ayat, hadis, atau materi keagamaan. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai tersebut menjadi pedoman dalam perilaku sehari-hari.

Mengapa Belajar di Lingkungan Pondok Pesantren?

Salah satu lingkungan pendidikan yang memiliki karakteristik kuat dalam pendidikan agama adalah pondok pesantren. Pesantren memiliki pola pendidikan yang relatif berbeda dengan pendidikan yang hanya berlangsung dalam ruang kelas. Santri hidup dalam lingkungan pendidikan selama hampir seluruh aktivitas hariannya. Belajar, beribadah, berinteraksi, bekerja sama, mengikuti aturan, dan membangun hubungan dengan guru menjadi bagian dari proses pendidikan. Dengan pola seperti itu, pendidikan karakter tidak hanya disampaikan sebagai teori.

Nilai agama dipelajari, dibiasakan, dan dipraktikkan.

Kajian tentang pendidikan karakter di pesantren menunjukkan bahwa pembentukan karakter dapat berlangsung melalui keteladanan, pembiasaan, integrasi kurikulum, serta budaya pesantren sebagai hidden curriculum. Penelitian terbaru mengenai ekosistem pendidikan pesantren juga mengidentifikasi nilai seperti komitmen keagamaan, tanggung jawab sosial, disiplin, dan kemandirian sebagai bagian penting dari pendidikan karakter di pesantren. (Jurnal UNY). Dengan demikian, keunggulan lingkungan pesantren tidak hanya terletak pada banyaknya materi agama yang dipelajari, tetapi juga pada proses pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar Ilmu Sekaligus Belajar Menjadi Manusia

Salah satu persoalan pendidikan modern adalah kecenderungan memisahkan antara pengetahuan dan karakter. Seorang peserta didik dapat memperoleh nilai akademik yang baik, tetapi pendidikan tetap perlu memastikan bahwa pengetahuan tersebut digunakan secara bertanggung jawab. Pesantren menawarkan salah satu pendekatan yang mengintegrasikan keduanya. Santri tidak hanya belajar kitab atau materi pelajaran, tetapi juga belajar menghormati guru, hidup bersama teman yang memiliki latar belakang berbeda, mengatur waktu, melaksanakan tanggung jawab, dan menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan bersama. Penelitian mengenai pendidikan karakter di lingkungan pesantren menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti disiplin, kerja keras, kebersamaan, kesederhanaan, kesabaran, toleransi, dan sikap moderat dapat ditanamkan melalui pembelajaran sekaligus tradisi kehidupan pesantren. (Jurnal UNY). Artinya, pendidikan karakter bukan hanya sebuah mata pelajaran. Ia merupakan kebiasaan yang dibangun secara terus-menerus.

Pendidikan Agama Bukan Sekadar Pengetahuan

Ada hal penting yang perlu ditekankan: belajar agama tidak boleh berhenti pada hafalan. Pengetahuan agama idealnya melahirkan akhlak. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam berbagai riwayat mengenai keutamaan akhlak. Pesan tersebut menunjukkan bahwa kualitas seseorang tidak hanya diukur dari pengetahuan yang dimilikinya, tetapi juga dari bagaimana pengetahuan itu tercermin dalam perilakunya. Dalam kehidupan pesantren, nilai tersebut dapat diterapkan melalui hubungan antara santri dengan guru, santri dengan sesama, serta santri dengan masyarakat. Karena itu, pendidikan agama yang baik semestinya menghasilkan manusia yang memiliki ilmu sekaligus adab.

Guru dan Keteladanan

Pendidikan tidak hanya berlangsung melalui kata-kata. Seorang anak belajar dari apa yang dilihatnya. Ketika guru menunjukkan kedisiplinan, kesabaran, kesederhanaan, tanggung jawab, dan kepedulian, peserta didik mendapatkan pelajaran yang tidak selalu tertulis di dalam buku. Inilah yang sering disebut sebagai keteladanan atau uswah. Kajian mengenai pendidikan karakter pesantren menunjukkan bahwa keteladanan dan pembiasaan merupakan bagian penting dalam membangun karakter peserta didik. (Jurnal UNY). Karena itu, keberadaan guru dan pengasuh dalam lingkungan pondok mempunyai arti yang sangat penting. Pendidikan berlangsung bukan hanya ketika ustaz atau guru menyampaikan materi, tetapi juga melalui interaksi dan kehidupan sehari-hari.

Pesantren dan Kemandirian

Pendidikan di pondok juga dapat menjadi ruang bagi anak dan remaja untuk belajar mandiri. Mengatur waktu antara belajar, ibadah, istirahat, kegiatan bersama, dan tanggung jawab pribadi membutuhkan kedisiplinan. Kehidupan bersama juga mengajarkan bahwa seseorang tidak dapat hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ada aturan yang harus dihormati, ada teman yang harus dihargai, dan ada tugas yang harus diselesaikan. Dalam konteks pendidikan karakter, pengalaman seperti ini memiliki nilai penting karena karakter tidak terbentuk dalam satu atau dua kali pembelajaran. Karakter tumbuh melalui proses yang berulang dan konsisten.

Tetap Relevan di Tengah Teknologi

Pesantren tidak harus berhadapan dengan teknologi secara berlawanan. Justru tantangan pendidikan saat ini adalah bagaimana nilai-nilai pesantren dapat berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi. Santri perlu memiliki kemampuan digital, tetapi juga harus memiliki etika digital. Santri dapat memanfaatkan internet untuk belajar, tetapi juga perlu memahami tanggung jawab ketika menyebarkan informasi. Santri dapat menggunakan media sosial, tetapi tetap harus menjaga adab dalam berkomunikasi. Dengan demikian, pendidikan agama tidak menjadi penghambat kemajuan teknologi. Sebaliknya, pendidikan agama dapat menjadi salah satu landasan moral agar teknologi digunakan secara bertanggung jawab. Kementerian Agama sendiri pada 2026 menekankan bahwa pendidikan pesantren perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman sekaligus menjaga tradisi luhur dalam pembentukan akhlak dan karakter. (Kementerian Agama)

Pondok Pesantren sebagai Ruang Pembentukan Karakter

Jika pendidikan hanya berorientasi pada kecerdasan akademik, maka kita berisiko melahirkan manusia yang memiliki pengetahuan tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan dalam menggunakannya. Sebaliknya, pendidikan yang menggabungkan ilmu, agama, akhlak, dan kehidupan sosial dapat memberikan bekal yang lebih menyeluruh. Pesantren memiliki tradisi yang kuat dalam hal tersebut. Penelitian tentang pendidikan karakter di pesantren menunjukkan bahwa pembentukan karakter dilakukan melalui berbagai kegiatan formal dan nonformal serta melalui budaya lembaga. (Jurnal UNY). Inilah salah satu alasan mengapa lingkungan pondok tetap relevan di era modern. Pesantren bukan hanya tempat untuk belajar agama. Dalam praktiknya, pesantren dapat menjadi ruang untuk belajar hidup.

  1. Belajar menghormati.
  2. Belajar bertanggung jawab.
  3. Belajar disiplin.
  4. Belajar mandiri.
  5. Belajar hidup bersama.

Dan yang paling penting, belajar menghubungkan ilmu dengan amal.

Pendidikan Agama untuk Masa Depan

Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi pada saat yang sama memiliki karakter, integritas, dan tanggung jawab sosial. Pendidikan agama dapat mengambil peran penting dalam proses tersebut. Pesantren, dengan segala karakteristik dan tradisinya, memiliki kesempatan untuk terus memberikan kontribusi. Tentu, pesantren juga harus terus melakukan pembaruan, memperkuat kualitas pengajaran, melindungi hak dan keselamatan santri, serta merespons tantangan teknologi dan perubahan sosial. Dengan demikian, pesantren tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan zaman. Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar pertanyaan tentang “seberapa banyak ilmu yang telah dipelajari?”

Ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
“Untuk apa ilmu itu digunakan?” Jika ilmu digunakan untuk kebaikan, pendidikan menemukan maknanya. Jika ilmu melahirkan akhlak, pendidikan menemukan tujuannya.
Dan jika ilmu, agama, serta akhlak berjalan bersama, maka pendidikan tidak hanya mencetak manusia yang cerdas, tetapi juga manusia yang mampu memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan. Di tengah dunia yang semakin cepat berubah, pendidikan agama dan lingkungan pesantren dapat menjadi salah satu ruang untuk memastikan bahwa kemajuan tidak membuat manusia kehilangan arah. Sebab generasi masa depan tidak cukup hanya membutuhkan manusia yang pintar. Mereka membutuhkan manusia yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan mampu menggunakan ilmunya untuk kebaikan.

Referensi

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2025). Urgensi Pendidikan Keagamaan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional.
(Kementerian Agama) Ma’arif, M. A., & Arif, M. (2026). Sustaining character education in pesantren: A holistic and culturally embedded learning ecosystem. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 45(2). (Jurnal UNY)
Miftahuddin. (2015). Implementasi Pendidikan Karakter di Pesantren Krapyak Yogyakarta. Jurnal Penelitian Humaniora, 20(1). (Jurnal UNY)
Islamy, M. R. F. (2022). Studi Analisis Model Implementasi Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Al-Inayah. Jurnal Pendidikan Karakter, 13(1), 110–121. (Jurnal UNY)
Berliani, Y. M., & Sudrajat, A. (2018). The Implementation of Character Education at MTs Nur Iman Mlangi, Pondok Pesantren Al-Huda, Sleman Regency, Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Karakter, 9(2). (Jurnal UNY)
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2026). Santri akan Dapat Materi Pendidikan Ramah Anak dalam Orientasi Masa Ta’aruf 2026. (Kementerian Agama)

Scroll to Top